Pendidikan yang Memerdekakan: Sebuah Diskursus

Catatan kecil dari kegiatan Nonton Bareng ”Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” – PPIA ACT

nomat
Nomat dan Kajian Strategis

Mengawali rangkaian kegiatan menyambut hari pendidikan nasional dan hari kebangkitan nasional di bulan Mei 2013, PPIA ACT telah mengadakan kegiatan nonton bareng ”Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”, yang dilanjutkan dengan diskusi santai bersama Risa Bhinekawati, PhD candidate, College of Business and Economics, ANU. Tidak sekedar menikmati jalannya film, penonton juga diajak ”bermain peran” dengan berusaha menyerap cara berpikir dan berpendapat sesuai perspektif peran yang dimainkan. Beberapa penonton berperan sebagai sarjana yang optimis bahwa pendidikan itu penting, yang lain berperan sebagai sarjana yang skeptis terhadap proses pendidikan, beberapa penonton juga berperan sebagai wirausahawan, pemerintah, legislator, ataupun sebagai anak jalanan. Satu pertanyaan besar yang perlu dijawab: apa tujuan pendidikan Indonesia sebenarnya?

Beberapa nada kecewa dari pandangan skeptis mengungkapkan bahwa hasil pendidikan tidak dapat langsung dirasakan atau ternyata lingkungan tempat kita kembali setelah belajar tidak mendukung pemanfaatan hasil pendidikan yang sudah diraih. Seperti halnya Muluk, sang tokoh utama dalam film, dihadapkan pada kondisi sulitnya mencari pekerjaan meski telah memiliki modal sebagai sarjana manajemen. Ataupun Samsul, tokoh yang direpresentasikan sebagai sang sarjana pendidikan yang menjadi pengangguran. Di sisi lain, tetap ada nada optimis bahwa dengan pendidikan tinggi, seseorang bisa tetap dapat menginspirasi orang di sekitarnya.

Guru, sebagai pribadi yang penting dalam proses pendidikan justru berada dalam dilema antara tugas mulianya ”membentuk” individu yang cerdas dan himpitan kesejahteraan untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup.  Pemerintah dipandang sudah memiliki program-program pendidikan dan pengembangan masyarakat, namun seringkali tidak tepat sasaran atau malah menimbulkan masalah baru. Misalnya, program rumah singgah bagi anak jalanan atau sistem sertifikasi guru; yang menjanjikan “tambahan penghasilan”, namun belum berbanding lurus dengan peningkatkan kualitas ajar seorang guru.

Risa Bhinekawati menambahkan, bahwa pendidikan pada akhirnya harus dapat menjadikan seorang individu untuk berfungsi selayaknya manusia, makhluk sosial yang bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakatnya. Menarik benang merah antara Ki Hajar Dewantara dan R. A. Kartini, bahwa pendidikan pada dasarnya memerdekakan cara berpikir, mambangun akal budi dengan memupuk hati nurani, menanyakan apa yang benar dan mendekatkan diri dengan Tuhan, sumber segala kebenaran. Pendidikan juga ditujukan untuk menguatkan pribadi mandiri; learn to help yourself, so you are able to help others. Setidaknya, itu yang dicita-citakan.

Pada kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia saat ini perlu terus-menerus diperbaiki. Miss-match antara produk hasil pendidikan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan yang tersedia kerap terjadi. Pendidikan kewirausahaan, yang membentuk karakter mandiri, juga masih menjadi anak tiri. Budaya dan nuansa pendidikan tidak akomodatif untuk membangun minat, bakat, dan keterampilan seseorang: pendidikan hanya untuk lulus. Pendidikan Indonesia membutuhkan Grand Design yang disusun dan dijalankan dengan benar, bukan sekedar proyek besar yang mengeruk keuntungan.

Satu hal yang pasti, kita sebagai pelajar Indonesia di luar negeri mendapatkan keistimewaan luar biasa dari sekian banyaknya masyarakat Indonesia di tanah air. Perlulah kiranya terus memupuk semangat berbagi dan tetap terhubung dengan realitas masyarakat Indonesia. Biarkan diskursus bergulir dan ide demi ide solutif ditelurkan, mendorong pendidikan yang lebih baik bagi Indonesia. Namun, kembali pada pribadi masing-masing, apakah kita bisa menjadi pionir perubahan atau hanya menjadi penonton yang mengelu-elukan dan menyoraki tiap kejadian?

Galeri foto: Nomat dan Kajian Strategis

April 2013 – KGK PPIA ACT

Advertisements