Refleksi Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2013

harkitnas

-M. Rizqy Anandhika, Departemen Kajian Gerakan dan Keilmuan PPIA ACT-

20 Mei 1908, para pemuda Jawa dari golongan priyayi berkumpul di ruang anatomi STOVIA, Sekolah Kedokteran Hindia-Belanda, mendirikan sebuah organisasi modern untuk memajukan rakyat Jawa, dinamakan ‘Budi Utomo’. Organisasi ini pada umumnya masih membatasi perjuangannya untuk kepentingan suku bangsa Jawa, dimana saat itu priyayi dan pegawai negara adalah kaum terdidik yang menyadari ketidakadilan pemerintah kolonial terhadap kaum bumiputera–dan menyadari akan pentingnya gerakan untuk memperjuangkan kaum mereka.

Gerakan ini terlahir dari inspirasi seorang pendirinya, dr. Wahidin Sudirohusodo, yang melihat adanya secercah harapan akan adanya peluang bumiputera untuk memperbaiki nasibnya, melihat kemenangan Jepang dalam perang melawan Rusia di awal abad 20. Sebuah peristiwa yang mematahkan anggapan bahwa bangsa kulit putih selalu superior dibandingkan bangsa lainnya. Sebuah inspirasi untuk melakukan sesuatu terhadap ketidakadilan yang terjadi di Hindia-Belanda.

Dalam keberjalanannya, Budi Utomo mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dalam 1 tahun Budi Utomo mampu menarik 10000 anggota yang tersebar di 40 cabangnya di Jawa. Gerakan yang dilakukan meliputi gerakan sosial, ekonomi, kebudayaan, tetapi tidak untuk politik. Tak heran jika pemerintah Belanda mengakui badan ini, selain juga dikarenakan tekanan politik dari negeri induk dalam menjalankan politik etis. Karena hal itu pula, beberapa anggotanya yang berlainan prinsip keluar untuk bergabung terhadap gerakan yang lebih politis. Tahun 1935, organisasi ini bubar.

Budi Utomo bukan organisasi yang sempurna dengan segala tinta emas dalam perjuangannya. beberapa kontroversi mengenai perjuangannya yang masih bersifat ‘kedaerahan’, bahkan beberapa intelektual meragukan relevansi kelahiran Budi Utomo dengan Hari Kebangkitan Nasional, melihat fakta bahwa Budi Utomo menjaga eksklusivitas keanggotaannya hanya pada suku Jawa, bahkan malah memberikan orang Cina dan Belanda tempat di mereka, alih-alih suku lain yang sebangsa. Namun bukankah saat itu belum ada nama bangsa Indonesia?

Gerakan Budi Utomo bukan tidak mungkin menjadi inspirasi untuk menciptakan gerakan-gerakan yang memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia secara politis. Kemuculan Sarekat Dagang Islam (kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam), Indische Partij, Partai Indonesia Raya, juga beberapa organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond adalah akumulasi dari sentimen perjuangan kedaerahan yang mencapai puncak kesepahamannya akan persatuan bangsa, termanifestasi dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Selanjutnya muncullah  partai-partai yang secara terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, seperti Partai Nasional Indonesia dan Partai Komunis Indonesia. Momen pendudukan Jepang ketika Perang Dunia II dimanfaatkan oleh bumiputera untuk mempelajari strategi militer. Pada 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan mengalami ujian ketika Belanda hendak merebut kembali ‘Hindia-Belanda’ miliknya, berakhir dengan kemenangan rakyat Indonesia dalam pengakuan kedaulatan pada 1949.

Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang memerdekakan bangsa Indonesia. Segala proses yang dijalani bangsa ini adalah kemenangan atas keinginan luhur para pendiri bangsa. Perjuangan yang tak terhenti sejak 1908, lalu sumpah pemuda, proklamasi, revolusi, hingga titik dimana kita bernapas saat ini, adalah rangkaian pergerakan dimana putusnya mata rantai perjuangan tersebut bisa jadi menghilangkan segala kenikmatan yang kita peroleh saat ini. Oleh sebab itu, tak perlu bagi kita untuk mengkerdilkan satu perjuangan dibandingkan perjuangan lainnya. Tak mungkin ada kemerdekaan tanpa sumpah pemuda, dan tak mungkin ada sumpah pemuda tanpa momen kebangkitan nasional.

20 Mei 2013. Sudah 105 tahun sejak ‘Kebangkitan Nasional’ dicetuskan. Indonesia menjadi negara yang semakin disegani karena ketahanan ekonominya, hal yang mungkin bisa membuat terlena pemimpin-pemimpin bangsa ini dan melupakan bahwa angka-angka tersebut berdiri angkuh di ratusan juta rakyat yang masih hidup dibawah dan ‘sedikit di atas’ garis kemiskinan. Perjuangan belum beres–dan sejujurnya–utang kita kepada pendahulu yang mati untuk kita pun belum terbayar.

Advertisements