Memaknai 68 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Kemerdekaan yang Mulia?

Logo HUT RI Ke 68

Oleh: Kang Abilegawa

Petikan lagu kebangsaan RI, “Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka!” masih bergema sampai hari ini. Dan dari dua barisan syair lainnya, tanah air tercinta Indonesia masih menyanyikan barisan syair kesatunya yaitu yang kebanyakan dari kita hafal karena upacara setiap hari Senin sewaktu di bangku sekolah. Lagu kebangsaan dengan tiga barisan syair yang berbeda ini menandakan kelahiran pergerakan kebangsaan di seluruh Nusantara Indonesia dahulunya, demi ide satu “Indonesia”,- daripada dipecah-belah menjadi beberapa negara yang tetap di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Namun seperti kita ketahui syair asli yang disebar-luaskan semenjak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 terselenggarakan, berbeda dengan syair resmi yang telah disyahkan di tahun 1958.

Pendahulu kita dengan jiwa-jiwa mereka yang besar tidak gentar menyanyikan lagu kebangsaan ini, walau pemerintah Belanda telah segera melarang penyebutan “lagu kebangsaan” untuk Indonesia Raya tsb. Dahulu syair asli dari, “Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka!” adalah sebagai berikut “Indonesia! Indonesia! Moelia! Moelia!” yang dengan lantang dinyanyikan para pendahulu kita, namun “belum” dinyanyikan lagi oleh Rakyat Indonesia saat ini. Sudah diubah? Memang betul, tapi mari kita petik hikmahnya dengan pertanyaan pantaskah kita menyebut bahwa Indonesia “mulia” sekarang ini?

Saya percaya bahwa kita termasuk rakyat yang mulia, namun apakah kita bisa memaknai arti kemerdekaan yang mulia tersebut? Saya sendiri berharap akan menjadi rakyat bisa memaknai hakikat kemerdekaan yang mulia ini. Suatu negara akan maju dan makmur bila pemimpin, kebijakan-kebijakan, dan keberlangsungan kebijakan tsb dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah, pihak-pihak bersangkutan, dan rakyat dapat terselaraskan untuk pembangunan dan setelahnya adalah pengembangan. Kesadaran, semakin banyak rakyat yang baik secara sadar ataupun tidak sadar turut membangun Indonesia, banyak juga yang sebaliknya malah menguntungkan negara lain walaupun masih ada baiknya untuk Indonesia dengan hitungan yang tidak seberapa.

Lebih lanjut lagi, saya ingin sedikit bertanya, Kapan sih kita merdeka sebenarnya? Memang kalau merunut lagu 17 Agustus, sepertinya benar kalau Indonesia ini merdeka pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. Keriuhan di tanggal 17 Agustus untuk memperingati kemerdekaan Indonesia juga biasanya diwarnai dengan lomba-lomba tahunan yang unik dan sangat khas orang Indonesia, seperti ngambil koin dari semangka, makan kerupuk sambil diiket dan berdiri, dll. Jadi, tentu lah tidak terbantahkan kalau Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Tapi benarkah sesungguhnya kita telah memahami kemerdekaan kita ini? Benarkah kita telah merdeka? Saya sendiri berpendapat bahwa Indonesia masih ‘dijajah’. ‘Dijajah’ oleh mentalitas kita sendiri yang masih belum ‘mulia’. Mari berpikir ulang tentang kemerdekaan kita dan soal mentalitas ini.

Mentalitas rakyat adalah salah satu kunci untuk kesadaran, karena rakyat kecil dengan keuangan yang terpuruk pun jika ia berpikiran positif disertai usahanya, dan yang paling penting “ikhlas” dengan apa yang bisa mereka dapat, maka rakyat kecil pun akan menjalani hidupnya dengan semangat dan “tidak mengeluh” seperti mereka yang sering ditayangkan kehidupannya dalam beberapa acara stasiun TV Indonesia di bulan Ramadhan kamarin. Semua akhirnya menyangkut kepada mental rakyat sendiri, bangsa Indonesia sekarang harus berperang melawan kemalasan!

Sayangnya, kebanyakan rakyat Indonesia mentalnya sudah turun menjadi “peminta” atau
tangan di bawah. Seorang polisi lalu lintas yang gajinya sudah mencukupi pun misalnya,
bisa saja tetap minta-minta ketika menilang akibat dari kecilnya mental yang dimiliki. Lebih lanjut, coba kita lihat saja yang ada di sekitar kita sekarang. Berapa banyak sih barang yang kita pake buatan negeri sendiri? Laptop yang saya pakai untuk mengetik artikel ini juga bukan buatan Mas Diman atau mbak Saijo. Kita bahkan juga sering merasa lebih bangga jika pakaian kita bermerek “BOSS” atau “ESPRIT”, atau merk-merk ternama lain yang sebenarnya juga dibuat di negeri kita sendiri, daripada merk asli lokal (Atau bahkan masih adakah diantara kita yang mempunyai semangat seperti Pak Habibie untuk membangun kekuatan Indonesia yang bertumpu pada kemandirian kita sendiri?).

Belum lagi di negara yang kita cintai ini, yang menurut konstitusinya disebutkan bahwa “tanah, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat”, ternyata malah minyak bumi dan kekayaan alam lainnya dilego ke para penguasa asing yang kantongnya tipis (isinya cek…tapi jutaan dolar). Lihat aja kasus terakhir yang menyangkut (mantan) Ketua SKK Migas, pak Rudi yang notabene adalah orang pintar lulusan salah satu perguruan tinggi Top Indonesia. Apa lagi kalau kita memikirkan soal Freeport yang kontraknya masih sekitar 30 tahun lagi, padahal ia telah menyulap dua gunung jadi lembah (plus mencerabut hak hidup masyarakat Amungme di sana). Newmont tetep aja beroperasi dengan tenang, padahal limbah merkuri yang diproduksi dari pabriknya telah membuat perairan Buyat tercemar (banyak yang cacat, bentol-bentol, sampe ada yang mati). Dan Masih banyak lagi cerita yang lain tentang potongan negeri ini yang diobral murah pada tuan-tuan investor, tapi justru gak ramah sama rakyatnya sendiri.
Jadi, di momen peringatan proklamasi kemerdekaan ini, mari kita sama-sama mencoba memaknai kembali lagi hakikat kemerdekaan kita ini. Jangan-jangan, yang merdeka hanyalah bendera merah putih, Garuda Pancasila, dan simbol-simbol yang lain. Namun, secara struktural dan mentalitas, kita masih benar-benar dalam posisi terjajah. Semoga bahasan ini bisa menjadi cerminan kepedulian saya dan pembaca terhadap kelancaran pertumbuhan dan kemajuan berbagai bidang di tanah air yang sekarang sudah mencapai umurnya yang ke-68 tahun.

Selamat hari lahir Bangsa ku Indonesia! MERDEKA!! MULIA!!

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu!
Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku,
Semuanya!
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya!

Advertisements