NgeTok (Ngenal Tokoh): Bung Hatta

bung_hatta

*Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…

Adalah seorang Mohammad Hatta, pria kelahiran Bukittinggi, 12 Agustus 1902, yang menjadi salah satu tokoh utama kelahiran Republik Indonesia. Ketika penulis diminta menyusun artikel mengenal tokoh (ngetok) ini, detik itu juga terngiang lagu Bung Hatta, oleh Iwan Fals, yang penulis sering dengar waktu kecil dulu. Sebuah lagu sederhana yang bisa merangkum kepribadian proklamator Indonesia ini.

Kita cukup mengenal Bung Hatta sebagai Wakil Presiden pertama RI atau sebagai Bapak Koperasi Indonesia, namun kedalaman pemikiran Bung Hatta jauh lebih luas lagi. Seseorang penyair pernah mengatakan: “tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta, dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan pernah tamat dibaca”. Karena itu, dalam ngetok kali ini penulis hanya ingin mengajak untuk sedikit mengintip pribadi Bung Hatta dari tiga sisi: pendekatan nasionalisnya, kiprahnya sebagai pelajar di luar negeri, dan pikirannya mengenai perekonomian.

Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia…

Terlahir pada perpaduan keluarga yang kental beragama dan berniaga, dalam balutan budaya Minang, Bung Hatta dikenang sebagai seorang yang sederhana, teratur dan sangat disiplin waktu. Beliau juga memiliki rasa kecintaan yang tinggi terhadap buku dan ilmu pengetahuan.

Walaupun pembawaannya agak kaku, pribadi Bung Hatta membuatnya luwes dalam berorganisasi sejak muda. Bung Hatta sudah menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond pada tahun 1916, serta aktif mengikuti ceramah Haji Agus Salim, Abdoel Moeis, dan tokoh lainnya yang sempat mampir di Padang. Keuletannya dalam berorganisasi diteruskannya saat menjadi pelajar di Belanda. Ia menjadi bendahara Perhimpoenan Indonesia pada tahun 1922 dan menjadi ketuanya pada tahun 1926.

Sepanjang hidup dan pengabdiannya, tak terhitung berapa tulisan yang sudah ia curahkan, baik di media massa, buku, naskah pidato, maupun surat-surat. Sejak tulisannya mengenai Hindania yang diperistri pria barat yang “hanya cinta hartanya” (sebagai personifikasi Indonesia dalam genggaman kolonial Belanda) dimuat dalam majalah Jong Sumatra, Bung Hatta seakan tidak dapat berhenti menulis. Ia ketika itu baru berumur 18 tahun. Saat menjadi pelajar di Belanda, ia juga sangat aktif menghidupkan majalah Hindia Peotera, terbitan Perhimpoenan Indonesia.

Sepulang dari Belanda, ia bersama Sutan Sjahrir membentuk Pendidikan Nasional Indonesia, yang pada akhirnya memaksa kolonial Belanda menangkap dan mengasingkan dirinya. Menuju pengasingannya ke Boven-Digoel awal tahun 1930an, Bung Hatta membawa serta 16 peti bukunya, yang ia gunakan sebagai amunisi untuk tetap menulis untuk beberapa koran Batavia, Den Haag, maupun Sumatra. “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”, ujarnya.

Pada tahun 1941, ketika perang pasifik pecah, Bung Hatta menulis di media massa agar rakyat Indonesia tidak memihak dalam peperangan. Kuatnya cita-cita Bung Hatta untuk memerdekakan bangsa Indonesia ia tumpahkan pada Jepang di lapangan Ikada, pada Desember 1942. Bagi pemuda Indonesia, ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dasar laut daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.

Selama masa pergerakan nasional, melalui tulisannya kita juga dapat memahami bahwa Bung Hatta sangat memandang penting pendidikan dan kaderisasi dalam mengorganisasikan kedaulatan rakyat, tidak sekedar penggalangan massa. Pada tahun 1943, bersama Soekarno, Ki Hadjar Dewantara, dan KH Mas Mansur, ia mengorganisasikan Poesat Tenaga Rakjat (Poetera), yang berupaya mengubah sistem pendidikan warisan kolonial Belanda menjadi sistem yang lebih cocok untuk Indonesia.

Besar kontribusi Bung Hatta dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam penyusunan konstitusi pada tahun 1945. Ia meyakinkan sahabat-sahabatnya agar tujuh kata tentang syariat Islam dalam draf Pembukaan UUD 1945 diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang akhirnya diterima PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Baginya, sila pertama tersebut menjadi dasar utama dalam Pancasila, menjiwai dan memberi semangat kepada sila-sila lainnya.

Bung Hatta juga memastikan dimasukkannya pasal-pasal mengenai hak asasi atas penghidupan yang layak, hak berserikat dan berkumpul, serta pengelolaan sumber daya alam bagi kedaulatan rakyat. Pesan Bung Hatta saat sidang BPUPKI, tanggal 15 Juli 1945, menekankan pentingnya good governance dan posisi negara sebagai “pengurus”, dengan membangun masyarakat baru yang berlandaskan gotong royong dan usaha bersama, berdasarkan kedaulatan rakyat.

Seperti dicatat Deliar Noer, kebangsaan yang dimaknai Bung Hatta menolak sifat ekspansif dan imperialis. Ia sangat khawatir Indonesia akan jatuh menjadi “negara kekuasaan” di kemudia hari. Ia dengan jelas menolak usulan pembentukan Indonesia yang juga mencakup Semenanjung Malaya, Singapura, Kalimantan Utara (Sarawak, Brunei, Sabah), dan Timor Timur. Meskipun tidak ia utarakan saat sidang, dalam pandangannya, ia lebih condong pada bentuk negara serikat atau federasi. Sebagaimana yang dirunut oleh Sri Edi Swasono, merujuk tulisan Bung Hatta, Ke Arah Indonesia Merdeka, tahun 1926, federalisme yang dimaksud berarti otonomi yang luas bagi daerah, yang sesuai dengan keistimewaan dan kekhususan daerah.

Beliau juga menjadi pencetus politik luar negeri bebas aktif Indonesia. Bagai berlayar di antara dua karang, Indonesia menetapkan strateginya memperjuangkan kemerdekaan dan menghadapi perang dingin. Akan sia-sia belaka perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan, jika pada akhirnya nasib Indonesia diserahkan pada kekuatan lain. Berlayar terlalu dekat dengan salah satu karang, maka kapal akan celaka. Buah pikirannya diijelaskan secara lugas oleh Dewi Fortuna Anwar; “bebas” berarti tidak terlibat dalam pakta pertahanan dengan kekuatan luar, ini mencerminkan nasionalisme tinggi yang menolak ketergantungan terhadap pihak luar yang dapat mengurangi kedaulatan bangsa, dan “aktif” berarti Indonesia tidak pasif dan sekedar netral, namun ikut aktif mencari solusi terhadap persoalan internasional, dengan tetap menentang segala bentuk penjajahan dan ikut memajukan perdamaian dunia.

Agaknya kekhawatiran Bung Hatta akan sebuah negara kekuasaan terbukti. Ia tidak sependapat dengan Soekarno mengenai jalannya Demokrasi Terpimpin, yang menurutnya sudah berbau kediktatoran. Saat pidato penerimaan gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada, tanggal 27 November 1956, Bung Hatta menekankan agar negara tidak tergelincir pada penekanan hak individu di satu pihak, atau penumpukan kekuasaan pada seseorang di pihak lain. Tiga hari kemudian, ia mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden.

Tidak berhenti di situ, Bung Hatta memukul kembali dengan tulisannya, Demokrasi Kita, di awal tahun 1960an. Meski demikian, Bung Hatta tetap optimis: “demokrasi bisa tertindas sementara karena kesalahannya sendiri. Tetapi setelah mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan keinsafan”.

Begitu komitmennya Bung Hatta terhadap cita-cita perjuangan ini, ia bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Bung Hatta baru menikah pada 18 November 1945, tiga bulan setelah proklamasi kemerdakaan Indonesia. Ketika itu, ia hanya memberika sebuah buku “Alam Pikiran Yunani”, yang ia tulis sendiri selama pengasingan di Digoel, sebagai mas kawin untuk meminang Rachmi Rahim.

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru

Tiba di Belanda pada bulan September 1921, Bung Hatta memanfaatkan waktu 11 tahun di luar negeri untuk menimba ilmu, membangun jaringan dan berkarya. Penulis setuju denga ungkapan Parakitri Simbolon, bahwa Bung Hatta tidak hanya menjadi pelajar, tetapi juga menjadi “pengajar” bagi para penjajah. Ia mengajarkan emansipasi, otonomi, dan hak untuk merdeka. Bung Hatta memahami bahwa orang Indonesia dapat menjadi setara dengan orang kulit putih sekalipun.

Berawal dari perkumpulan kecil di sebuah rumah di Bilderdikjstraat, dekat Universitas Leiden, bersma Nazir Pamuntjak, Dahlan Abdullah, Ahmad Soebardjo, Herman Kartasasmita, Darmawan Mangunkusumo, dan lainnya, ide besar tentang pergerakan nasional dilahirkan. Bung Hatta kemudian aktif dalam Indische Vereeninging, yang olehnya ditranformasi dari perkumpulan sosial menjadi gerakan politik.

Niatan Bung Hatta memang sudah jelas, ia mendorong pelajar Indonesia di luar negeri untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dari kolonial Belanda. Dua tulisan Hatta yang dimuat dalam buku Gedenkboek Indonesische, yang diterbitkan Indische Vereeninging, menegaskan sikapnya. Pertama, Indonesia dalam masyarakat dunia, yang menguraikan keterkaitan geopolitik Indonesia dan perekonomian dunia; untuk meningkatkan hubungannya dengan dunia, Indonesia butuh kebebasan ekonomi dan kedaulatan politik. Kedua, Indonesia di tengah-tengah revolusi Asia, yang menguraikan usaha bangsa Asia untuk membebaskan diri dari pendudukan Eropa; perkembangan ini mempengaruhi Indoensia, karenanya Indonesia perlu membangun kekuatan sendiri untuk mendorong pergerakan menuju kemerdekaan.

Dalam pandangan Bung Hatta, pelajar Indonesia di luar negeri, terutama di Belanda harus menyebarluaskan gagasan kemerdekaan kepada sesama kaum terpelajar. Karenanya ia mendorong perubahan nama Indische Vereeninging menjadi Perhimpoenan Indonesia, serta majalah Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka. Jelas juga ia curahkan teguran terhadap orang-orang yang menamakan diri nasionalis Indonesia, namun pergaulan dan semangatnya amat terikat kepada daerah tempat dia dilahirkan.

Bung Hatta, yang fasih berbahasa Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman, terus memperkenalkan nama Indonesia, ke penjuru Eropa. Di pertemuan-pertemuan tersebut, Bung Hatta juga menjalin persahabatan dengan pemuda dari negeri Asia dan Afrika, yang juga memperjuangkan kemerdekaan negara masing-masing dan menentang imperialisme. Tercatat juga oleh Deliar Noer, semasa belajar di luar negeri bersama dengan Samsi Sastrawidagda, Bung Hatta mengunjungi Denmark dan Skandinavia untuk mempelajari perkembangan koperasi.

Pada tahun 1926, Bung Hatta menjadi penghubung perwakilan Asia yang hanya bisa berbahasa Inggris atau Perancis yang menghadiri kongres demokrasi internasional untuk perdamaian di Bierville, Perancis. Bung Hatta ikut serta dalam liga menentang imperialisme dan kolonialisme, yang pada tahun 1927 diadakan di Brussels, Belgia, dimana ia bertemu Jawaharlal Nehru. Ia juga berkesempatan untuk berpidato di hadapan liga internasional perempuan untuk perdamaian dan kebebasan di Gland, Swiss, tahun 1927. Di setiap pertemuannya, Bung Hatta menyuarakan cita-cita kebangsaan Indonesia dan penentangan terhadap perlakuan kolonial Belanda.

Aktivitas Bung Hatta dan rekan-rekannya akhirnya dianggap “mengganggu” pemerintah Belanda. Bulan September 1927, ia bersama Nazir Pamuntjak, Ali Sostroamijoyo, dan Abdoel Madjid Djojodiningrat ditangkap. Tanggal 9 Maret 1928, dalam pidato pembelaannya (Indonesia Vrij – Indonesia Merdeka) di hadapan mahkamah Den Haag, dengan lantang ia katakan: “hanya satu tanah air yang dapat disebut tanah airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku”.

Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…

Walaupun lahir dari keluarga yang cukup berada, Bung Hatta tidak kehilangan jiwa sederhana. Dari para pedagang yang menjadi anggota serikat usaha di Padang, Bung Hatta belajar keteraturan dan menjaga waktu. Bahkan, prinsip dan ketegasannya tercermin dari keputusannya untuk tidak terjun ke dunia bisnis dan menolak tawaran menjadi komisaris beberapa perusahaan besar selepas menjadi wakil presiden. “Apa kata rakyat nanti”, ujarnya. Bung Hatta juga pernah menolak kenaikan gaji sebagai wakil presiden dan mengembalikan sisa uang taktis kepada kas negara selepas berhenti menjadi wakil presiden.

Bung Hatta memang menolak paham pasar bebas ala Adam Smith. Pendekatan ekonomi Bung Hatta adalah sebagaimana tertuang pada pasal 33 UUD 1945. Mengutip Meutia Farida Hatta Swasono, bahwa Bung Hatta menyebutnya sebagai “jalan lurus”, dimana pembangunan adalah proses memanusiakan manusia dan yang berlaku adalah daulat rakyat, bukan daulat pasar.

Ia adalah seorang sosialis, namun tetap rasional dan tidak ekstrim. Mungkin itu juga yang membuatnya menolak pinangan Semaun, pada tahun 1926, untuk memimpin pergerakan nasional dari sayap komunis. Dari catatan Deliar Noor, kita bisa memahami pemikiran sosialisme Bung Hatta; ajaran Islam yang mendorong memberantas kemiskinan dan sosialisme barat yang berusaha membangkitkan kalangan miskin agar sejahtera. Intinya, bagaimana memurahkan ongkos hidup rakyat.

Pengalamam dan perhatian Bung Hatta terhadap kondisi rakyat Indonesia menjadikannya membenci struktur ekonomi dan pamong praja di bawah penjajahan kolonial Belanda. Kondisi ini membuat rakyat terpatri minder dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk bisa mandiri secara ekonomi. Ketidaksukaannya itu ia sampaikan pada pidato inagurasi sebagai ketua Perhimpoenan Indonesia, pada tahun 1926, dan juga di hadapan mahasiswa indologi di Utrecht, pada tahun 1930. Bung Hatta mendebat bahwa motivasi kolonial lebih banyak pada kebutuhan materiil yang didorong sifat tamak, dengan mengorbankan bangsa-bangsa yang lebih lemah.

Bung Hatta percaya, melalui koperasi rasa kebersamaan, persamaan, dan tolong menolong dapat ditumbuhkan. Jiwa koperasi ala Bung Hatta adalah “menolong diri sendiri secara bersama-sama”. Dasar kesukarelaan untuk mencapai kepentingan bersama, serta menumbuhkan kesetiakawanan untuk mengangkat derajat bersama sangat penting. Dicintohkan olehnya, koperasi di Tiongkok yang berawal sukarela sudah bukan koperasi lagi saat dijadikan komune. Dengan komune ada paksaan, yang menegasikan sikap kesukarelaan. Koperasi ala Hatta juga bukan sekedar badan ekonomi untuk menghasilkan laba semata, namun juga berfungsi sosial; mendirikan sekolah, menyantuni yang membutuhkan, ataupun mendirikan klinik.

Bung Hatta secara jelas tidak menyetujui kapitalisme, yang menurutnya menyebabkan perekonomian hanya dikuasai minoritas pemilik modal. Karenanya di tingkat nasional, ia menerjemahkannya dengan penguasaan oleh negara cabang produksi dan aset yang menguasai hajat hidup orang banyak, pembatasan terhadap usaha swasta, serta mengembangkan koperasi sebagai soko guru perekonimian Indoensia. Ia juga mewanti-wanti agar segala bantuan luar negeri yang diterima pemerintah tidak mengandung ikatan politik.

Namun memang, pembuktian pandangan ekonomi Indonesia ala Bung Hatta masih menjadi misteri. di masanya koperasi sempat tumbuh subur, namun kontribusinya terhadap ekonomi nasional justru mandek. Dua keberhasilan yang sering dicatat adalah beroperasinya pabrik semen Gresik dan Gabungan Koperasi Batik Indonesia. Tepatnya tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta berpidato di radio tentang hari jadi koperasi. Dua tahun berikutnya, kongres koperasi Indonesia mengangkat dirinya sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Selama masa orde baru, Bung Hatta kerap menulis surat kepada pejabat berwenang karena khawatir Indonesia condong ke arah liberalisme pasar. Ia menilai negatif rancanga pembangunan lima tahun yang hanya menyiratkan pemberdayaan rakyat di atas kertas, menumbuhkan konglomerasi dan mengesampingkan koperasi. Bung Hatta juga menyesalkan sikap pemerintah yang kelihatannya membiarkan produksi nasional kalah oleh konkuren asing.

Bung Hatta memandang bahwa pejabat-pejabat itu harusnya bisa melihat kondisi rakyat di lapangan, tidak sekedar bergantung pada angka-angka parameter pembangunan saja. Sangat pedas kritiknya di tahun 1970; ia mengatakan sudah ada milarder orang Indonesia, beratus perusahaan besar yang berhubungan dengab luar negeri, tapi rakyat jelata yang terbanyak – petani, buruh dan pegawai negeri, serta yang telah pensiun – menderita kemunduran dibandingkan keadaan mereka di masa Hindia Belanda.

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu

Nampaknya, penulis harus berhenti sampai di sini. Berkisah tentang Bung Hatta sama halnya seperti mengisahkan sejarah Republik Indonesia itu sendiri. Banyak yang bisa kami petik dari perjuanganmu: kentalnya nasionalisme, kebanggaan menjadi duta bangsa, dan semangat pemberdayaan rakyat.

Bung Hatta wafat di usia 77 tahun, pada tanggal 14 Maret 1980. Sesuai dengan permintaannya, ia dimakamkan di pemakaman umum bersama rakyat yang dicintainya.

Maafkan kami Bung, yang masih membiarkan Indonesia sebagaimana kekhawatiran yang kau tuang dalam Demokrasi Kita, 50 tahun lalu:
“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik senantiasa”.

Semoga kami dapat membangun Indonesia yang lebih baik, selepas merantau di negeri selatan ini.

Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang sepertimu…

Agustus, 2013
Bramantya D. Widodo, Kadep KGK PPIA ACT
Diolah dan dicuplik dari berbagai sumber.
*Lirik lagu: “Bung Hatta”, oleh Iwan Fals

Advertisements