Pemerintahan Baru Indonesia dan Prospek Hubungan Indonesia Australia

Mengawala diskusi perdana di Summer Semester, Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia cabang Australian Capital Territory (Canberra) mengangkat topik diskusi tentang “Pemerintahan Baru Indonesia dan Prospek Hubungan Indonesia Australia” pada Kamis, 26 Februari 2015. Forum kali ini menyoroti isu-isu kontemporer yang mewarnai naik turunnya hubungan bilateral antar dua negara. Pengisi diskusi adalah Widya Rahmanto, Konsuler Fungsi Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, dan Wawan Ichwanuddin, kandidat Phd di the Australian National University.
unnamed-2
Pada diskusi yang dilaksanakan di H.W. Arndnt Building, ANU ini, Widya Rahmanto secara khusus menyoroti mengenai kasus hukuman mati yang ditetapkan pemerintah kepada kedua tersangka Bali Nine sebagai salah satu pemicu utama menguatnya ketegangan diantara kedua belah pihak. Walaupun demikian, beliau menambahkan bahwa tidak ada indikasi bahwa pemerintah Indonesia akan melunak mengenai keputusan pelaksanaan hukuman mati tersebut. Meneruskan pesan Duta Besar Republik Indonesia di Canberra, Widya menghimbau agar masyarakat Indonesia di Australia tetap tenang dan tidak terprovokasi atas segala tindakan yang muncul terkait eksekusi mati yang ditetapkan kepada kedua tersangka tersebut.
 Foto oleh PPIA ACT
Wawan Ichwanuddin memaparkan data yang menujukkan bahwa terjadi peningkatan tajam dalam hal putusan hukuman mati pasca reformasi 1998 di Indonesia. Walaupun demikian, jika dilihat dari segi kuantitas, jumlah tersebut masih jauh lebih sedikit dibanding dengan negara lain yang masih mengadopsi hukuman mati sebagai bagian dari sistem hukum mereka. Dari segi kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Wawan menambahkan, walaupun dari segi hukum hukuman mati adalah sah dan tidak melanggar undang-undang di Indonesia, kredibiltas kepemimpinan Jokowi-lah yang dilihat sebagai faktor yang paling berpengaruh dalam sikap non kompromis yang ditunjukkan oleh pemerintah terkait isu ini.
unnamed-3
Pandangan menarik juga disampaikan oleh Marya Onny (KBRI) yang menggarisbawahi bahwa kasus Bali Nine yang menyita perhatian masyarakat internasional ini harus bisa dijadikan sebagai momentum perbaikan terhadap upaya penanggulangan peredaran narkoba di Indonesia. Ia menambahkan bahwa Julie Bishop, Menteri Luar Negeri Australia telah menyampaikan kalimat ajakan sekaligus dukungan agar Indonesia dan Australia bisa bekerjasama sama memberantas peredaran narkoba di kedua negara.
Lalu, bagaimana masa depan hubungan Indonesia – Australia pasca eksekusi mati dua tersangka Bali Nine? Widya Rahmanto mengatakan bahwa secara bilateral, Australia akan semakin berhati-hati dalam melakukan diplomasi dengan Indonesia. Hubungan bilateral Indonesia – Australia sangat mungkin untuk kembali panas namun yang perlu ditingkatkan kemudian adalah memperkuat hubungan people to people yang selama ini telah digalakkan, tutup beliau.
unnamed-5
Dokumentasi oleh PPIA ACT.
Advertisements