Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus PPIA ACT 2014 – 2015

Kepengurusan PPIA ACT 2014/2015 resmi ditetapkan pada tanggal 6 April 2014 dengan Ketua terpilih Muhammad Shohin Busirri dan wakil, Yosafat Reza Leonard. Perjalanan panjang masa bakti dimulai dengan pembentukan kepengurusan untuk menjalankan fungsi organisasi. Strategi utama adalah pendekatan secara personal kepada para kandidat yang potensial. Dalam kurun waktu kurang lebih 2 minggu, seluruh posisi di dalam organisasi telah terisi.

Seluruh pengurus diperkenalkan kepada publik pada acara Charity Festival yang dilaksanakan bekerjasama dengan PPIA ANU pada 17 Mei 2015 . Ini merupakan salah satu momen kunci untuk beberapa alasan. Pertama, PPIA ACT hendak memberikan pelayanan yang optimal kepada seluruh civitas akademika Indonesia yang ada di Canberra. Kedua, PPIA ACT perlu membangun jaringan kerjasama secara strategis dengan para tokoh kunci demi optimalnya outcome dari kegiatan yang akan dilaksanakan.

Mengambil tagline, dedikasi dan bhakti untuk negeri, kegiatan demi kegiatan dilaksanakan dengan semangat yang sama, dengan komitmen yang sama. Saat situasi politik di tanah air menghangat dengan Pemilu Legislatif dan Presiden, PPIA ACT menyerukan apa yang belum disuarakan, di dalam cita-cita demokrasi, bahwa kaum minoritas perlu diperhatikan dan diperjuangkan karena mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI. Ketika kota Canberra diselimuti sejuknya musim dingin, PPIA ACT meniupkan kehangatan kebersamaan dan keceriaan bermain salju di Perisher, Snowy Mountain. Dalam kerinduan untuk merayakan kemerdekaan di negeri orang, PPIA ACT mendatangkan sutradara kenamaan, Hanung Bramantyo untuk bersama-sama merefleksikan perjuangan Para Pendiri Bangsa melalui acara nonton bersama, Soekarno: Indonesia Merdeka. Di batas kebisingan dan keletihan tuntutan studi, PPIA ACT membawa hiburan permainan Paint Ball bagi mereka yang membutuhkan adrenalin.

Keinginan untuk menggaungkan kekayaan budaya tanah air di tanah yang asing, disalurkan melalui sebanyak mungkin kesempatan dan peluang. PPIA ACT melaksanakan banyak kerja bersama. Bersama dengan Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Australia, acara yang telah lama dinantikan kembali ditampilkan: Pasar Senggol. Terlepas dari benefit ekonominya, semangat untuk menyuguhkan kuliner Indonesia, dan ragam budaya bangsa melalui gerak, lagu dan tari, tak pernah lepas dari raga. Bersama dengan Postgraduate Student Association (PARSA) ANU, PPIA ACT menyelenggarakan Global Café: Indonesia edition. Kekayaan budaya, dan cita rasa Indonesia disuguhkan kepada komunitas mahasiswa Internasional dalam suasana ramah dan bersahabat, ciri khas Indonesia. PPIA ACT juga berpartisipasi aktif mendukung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk menyelenggarakan acara tahunan: Festival Indonesia, termasuk juga meramaikan acara National Multicultural Festival (NMF), yang merupakan salah satu acara tahunan terbesar kota Canberra.

PPIA ACT memang milik Indonesia, tetapi PPIA ACT juga adalah bagian dari komunitas internasional di lingkungan universitas dan kota Canberra. PPIA ACT tidak hanya menanggapi isu-isu dalam negeri, namun membuka mata dan telinga terhadap apa yang terjadi di dunia sekelilingnya. PPIA ACT tidak berdiam diri ditengah-tengah pelik dan kompleksnya konflik Israel-Palestina, ataupun pedihnya nasib kaum eksil, Rohingya. PPIA ACT tidak tinggal duduk, ketika hubungan Indonesia-Australia menegang oleh kasus “Bali Nine”. Kompleksitas Israel-Palestina penting untuk dipahami sebelum mengambil sikap, untuk itu Prof. Amin Saikal, dan diplomat Supriyanto Suwito memberikan pencerahan expertise-nya. Di sisi lain, gerakan solidaritas yang cepat, bersama dengan segenap warga diaspora Indonesia dilakukan untuk berkontribusi pada Kaum Rohingya yang telah merapat dan mencari pertolongan, tidak jauh dari kita, di tanah Aceh.

Bukanlah hal yang mudah, menjalani kesibukan studi dan ambisi pribadi sembari mengemban kepercayaan dan tanggung jawab melayani seluruh anggota PPIA. Dinamika kehidupan mahasiswa dan seluruh problematikanya tetap menjadi bagian dari para pengurus yang tetap adalah manusia biasa, yang jauh dari sempurna. Jatuh bangun selalu ada, namun bangkit kembali adalah sebuah pilihan yang tidak sulit, karena para pendahulu adalah teladan yang sejati. Munir, pejuang kemanusiaan yang kematiannya tidak kunjung menemukan keadilan, adalah inspirasi dan pengingat, betapa lemahnya penegakkan keadilan dan hak asasi manusia di negeri Indonesia. Berkolaborasi bersama para senior gerakan termasuk Indonesia Synergy, PPIA ACT menyerukan gerakan: Canberra Menolak Lupa. Gerakan yang dimulai dari Canberra, menyebar ke banyak PPIA Cabang di Australa, dan dikumandangkan cukup luas di Indonesia. Mereka yang hidup pun, tak henti menjadi role model. Arahmaiani Feisal serta Mari Elka Pangestu adalah saksi hidup nyata bahwa kegigihan serta dedikasi untuk terus berkarya dalam bidang yang dicintai, tidak dapat dibatasi oleh tatanan sosial yang mengopresi perempuan. PPIA ACT mengambil momen peringatan International Woman Day, mengajak para mahasiswa untuk bertemu dan berbincang dengan mereka, dalam kegiatan Her Story.

Perjalanan hidup tidaklah selalu sempurna, dan seideal yang diinginkan dan dirancangkan. Begitu pula kisah perjalanan organisasi ini. People come and go, only memory will stay. Pada bulan Desember 2014, terjadi transisi kepengurusan yang semula dikomandoi Muhammad Shohib Bussirri, dilanjutkan oleh Wakil Ketua, Yosafat Reza Leonard oleh karena berakhirnya masa studi Ketua Umum PPIA ACT tersebut,. Proses yang tidak mudah, namun menjadi lebih tidak sulit oleh karena tambahan tenaga-tenaga muda, pejuang baru, yakni 5 orang pengurus yang bergabung bersama PPIA ACT melalui proses open recruitment pada bulan November 2014. Kegiatan demi kegiatan tetap dilaksanakan, dengan semangat yang sama, dengan komitmen yang sama.

Di setiap pertemuan, selalu ada perpisahan; di dalam setiap awal, selalu ada akhir. Tidak ada sesuatu yang abadi dalam dunia ini. Sudah waktunya bhakti ini dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Sudah saatnya pejuang, pelayan, dan pemimpin baru dibentuk dan diberi ruang untuk berkarya. Kisah ini tidak akan berakhir pada perjuangan 2014/2015. Tidak. PPIA ACT akan terus berkarya.

Executive Summary

Adalah sebuah kehormatan dan keistimewaan untuk menjadi representasi para mahasiswa Indonesia di Ibu Kota negeri Down Under. Di tengah-tengah tuntutan studi yang tidak sedikit, dan banyaknya hal-hal yang menarik ditawarkan oleh negeri Kangguru ini, menjalani fungsi perwakilan adalah sebuah keniscayaan. Menjadi pelayan dari pelajar Indonesia di Canberra adalah salah satu prioritas utama kami. Untuk hal ini kami telah berupaya untuk terus membangun komunikasi dan relasi yang baik kepada sebisa mungkin seluruh komponen pelajar Indonesia di Canberra. Kami melakukan penyambutan mahasiswa Indonesia yang tiba di Canberra melalui kegiatan Welcoming Party, menyediakan akses ke layanan kekonsuleran, memberikan panduan hidup di Canberra, serta memperkenalkan komunitas-komunitas Indonesia yang ada di Canberra. Kami juga melepas para mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya untuk kembali ke tanah air dalam tajuk Farewell Party. Selain itu, kami selalu mebuka tangan untuk mendukung rekan-rekan mahasiswa yang mengalami kesulitan maupun kedukaan.

Prioritas lain yang tidak kalah pentingnya kami upayakan adalah menjadi wadah untuk mendengarkan, dan menyalurkan aspirasi dari rekan-rekan mahasiswa di Canberra. Kami memberikan akses yang luas bagi ide-ide disampaikan untuk sebuah kegiatan, ataupun gerakan terkait dengan isu-isu kekinian. Beberapa kegiatan yang lahir dari fungsi ini antara lain: Gerakan Menolak Pilkada Tak Langsung, Canberra Menolak Lupa, Her Story, dan Unite for Rohingya. Selain itu, kami juga membuka diri untuk bekerja sama dengan institusi/organisasi lain untuk melakukan kegiatan bersama, seperti: Diskusi Bulanan, Pasar Senggol, Festival Indonesia, dan National Multicultural Festival.

Sebagai mahasiswa Indonesia yang menyadari identitas kebangsannya, kami berusaha aktif untuk memperkenalkan kekayaan budaya nusantara kepada komunitas mahasiswa Internasional dengan mengambil momentum prestisius Global Café : Indonesia edition. Kami memanfaatkan momentum yang sangat strategis ini untuk memperkenalkan beragam aspek dari Indonesia, seperti: ragam kuliner, tarian, permainan, dan pariwisata.

Dalam menjalankan roda organisasi, kami dengan seoptimal mungkin mengedepankan prinsip profesionalisme, demokrasi, akuntabilitas, transparansi, dan tertib administrasi untuk menjamin penyelenggaraan organisasi yang baik dan amanah. Kami mengadakan rapat internal setiap semester untuk sinkronisasi antara visi organisasi dan kegiatan, termasuk sinkronisasi seluruh kegiatan. Di akhir kepengurusan, kami mengadakan Annual General Meeting untuk mempertanggungjawabkan fungsi dan kewenangan yang telah diberikan kepada kami, dan untuk memberi kesempatan kepada seluruh komponen mahasiswa Canberra untuk mengkritik ataupun memberikan saran.

Beberapa tantangan terbesar yang dialami oleh kepengurusan ini adalah antara lain: terbatasnya sumber dana tetap bagi pembiayaan kegiatan organisasi oleh karena ketidakterikatan PPIA ACT pada institusi/universitas pendukung, dan sulitnya memilih atau memutuskan isu yang paling strategis untuk disikapi karena begitu banyaknya isu yang berkembang baik di tanah air maupun di luar negeri. Dibutuhkan usaha yang konkrit untuk

Seluruh kegiatan yang kami lakukan tentunya tidak akan berhasil tanpa dukungan dan bantuan dari seluruh warga Indonesia Diaspora dan mahasiswa Indonesia di Canberra. Oleh karenanya, kami ingin mengucapkan terimakasih atas setiap kepercayaan dan dukungan yang telah diberikan. Secara khusus kami ingin mengucapkan terimakasih kepada PPIA ranting University of Canberra, PPIA ranting The Australian National University, dan Indonesia Synergy atas setiap kerjasama dan kolaborasinya. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia Canberra, khususnya kepada Atase Pendidikan dan Kebudayaan untuk dukungan serta kerjasama yang telah dilaksanakan. Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat dan dapat menjadi acuan untuk kepengurusan PPIA ACT selanjutnya. Maju Mahasiswa Indonesia!

Atas nama PPIA ACT 2014-2015

Yosafat R Leonard

Ketua Umum

DSC_0048

Untuk dokumen lengkap, silahkan download materi berikut:

LPJ PPIA_updated

TATA TERTIB ANNUAL GENERAL MEETING

Notulensi AGM 29May2015

Advertisements